Islam Bukan Label, tetapi Proses Kesadaran Hati
Islam bukan sekadar identitas sosial yang tercatat di dokumen resmi atau terlihat melalui ritual lahiriah; ia adalah perjalanan spiritual yang dinamis dan mendalam. Lebih dari sekadar kata yang diucapkan, Islam sejati adalah proses kesadaran hati yang terus berkembang, di mana pasrah kepada Tuhan menjadi inti perjalanan ini. Dalam dinamika pencarian dan kehancuran ego, setiap ujian dan refleksi membawa kita lebih dekat kepada-Nya, melampaui batasan label untuk mencapai harmoni batin dan kedamaian sejati.
Islam adalah agama yang sering
kali dipahami sebagai identitas sosial, sesuatu yang dapat diklaim melalui
kelahiran atau dokumen resmi seperti KTP. Namun, esensi Islam jauh melampaui
label tersebut. Islam sejati adalah proses kesadaran hati yang terus berkembang,
bukan sesuatu yang statis atau berhenti di titik tertentu. Dalam pandangan ini,
Islam tidak hanya tentang apa yang kita katakan atau tampilkan kepada dunia,
tetapi tentang bagaimana hati kita terus mencari, menemukan, dan menyelaraskan
diri dengan Tuhan.
Islam Sebagai Sikap Hati
Dalam QS. Al-Hujurat (49:14),
Allah berfirman: "Orang-orang Arab Badui berkata, 'Kami telah beriman.'
Katakanlah, 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk,' karena
iman itu belum masuk ke dalam hatimu." Ayat ini menegaskan bahwa Islam
tidak cukup diucapkan atau diproklamasikan, tetapi harus meresap ke dalam hati
dan menjadi sikap hidup.
Kang Abu, dalam diskusinya,
menggambarkan Islam sebagai perjalanan spiritual yang dinamis. Ia menekankan
bahwa Islam sejati adalah bentuk pasrah total kepada Tuhan. Namun, pasrah ini
bukanlah sesuatu yang dapat dicapai secara instan. "Pasrah itu harus
sampai ke hati, dan hati itu terus berubah," ujarnya. Artinya, menjadi
seorang Muslim sejati adalah proses yang berlangsung seumur hidup, penuh dengan
perjuangan dan refleksi.
Kesadaran yang Terus
Berkembang
Islam sebagai proses kesadaran
mengajarkan bahwa iman seseorang tidak pernah statis. Dalam QS. Maryam (19:76),
Allah berfirman: "Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang
telah mendapat petunjuk." Ini menunjukkan bahwa semakin seseorang
mendalami Islam, semakin banyak pula yang ia pahami dan semakin dalam
keimanannya.
Bang Dame berbagi pengalaman
tentang bagaimana kesadarannya tentang Islam terus berkembang. Ia mengaku bahwa
ada momen-momen di mana ia merasa jauh dari Tuhan, tetapi justru dalam
momen-momen itu, ia menemukan peluang untuk kembali. "Kadang-kadang, kita
merasa sudah cukup beriman. Tapi saat diuji, kita sadar bahwa hati kita belum
sepenuhnya pasrah," katanya. Kesadaran seperti ini menjadi pendorong bagi
seseorang untuk terus mencari, memahami, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Islam sebagai Harmoni Batin
Islam juga berarti kedamaian,
baik dalam hubungan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Dalam QS.
Al-Baqarah (2:208), Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman,
masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan." Ayat ini mengajak kita
untuk membawa Islam ke dalam semua aspek hidup, termasuk bagaimana kita
berpikir, merasa, dan bertindak.
Mas Sonnie menambahkan bahwa
Islam sejati adalah harmoni batin. "Ketika hati kita damai, tindakan kita
akan mencerminkan kedamaian itu," katanya. Ia menjelaskan bahwa banyak
orang yang mengaku Muslim tetapi masih hidup dalam ketidakselarasan, karena
Islam belum sepenuhnya masuk ke dalam hati mereka. Islam sebagai proses
kesadaran mengajarkan bahwa kedamaian sejati hanya bisa dicapai jika kita
benar-benar menyerahkan diri kepada Tuhan.
Bukan Identitas Sosial, tetapi
Esensi
Dalam konteks sosial, Islam
sering kali dipahami sebagai identitas. Seseorang dianggap Muslim jika ia lahir
dari keluarga Muslim, memiliki nama yang Islami, atau menjalankan ritual
tertentu. Namun, Kang Abu mengingatkan bahwa identitas ini hanyalah permulaan.
"Islam sebagai identitas itu penting, tetapi esensinya lebih penting
lagi," ujarnya. Esensi Islam adalah hubungan pribadi dengan Tuhan, yang
tercermin dalam bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan bertindak.
Dalam QS. Al-Hajj (22:37), Allah
berfirman: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya." Ayat ini menegaskan bahwa ritual lahiriah tidak cukup
jika tidak disertai dengan ketakwaan yang tulus dari hati.
Proses Pasrah yang Mendalam
Pasrah atau surrender
adalah inti dari Islam. Kata "Islam" sendiri berasal dari akar kata
"salaam," yang berarti damai, dan "taslim," yang berarti
menyerah atau tunduk. Namun, pasrah ini bukanlah sesuatu yang sederhana atau
otomatis. Kang Abu menggambarkan pasrah sebagai proses yang membutuhkan
kehancuran ego. "Ketika semua pegangan duniawi kita dilepaskan, barulah
kita bisa benar-benar pasrah," katanya.
Pengalaman ini sejalan dengan
kisah Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anaknya demi memenuhi perintah Tuhan.
Dalam QS. Ash-Shaffat (37:102), Nabi Ibrahim berkata, "Wahai anakku,
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah
bagaimana pendapatmu!" Kisah ini mengajarkan bahwa pasrah sejati
adalah menyerahkan segalanya kepada Tuhan, bahkan hal-hal yang paling kita
cintai.
Islam sebagai Perjalanan Tanpa
Akhir
Islam sebagai proses kesadaran
berarti memahami bahwa perjalanan menuju Tuhan adalah perjalanan yang tak
pernah berakhir. Dalam QS. Al-Insyiqaq (84:6), Allah berfirman: "Wahai
manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan
menemui-Nya." Ayat ini mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan
spiritual yang terus menerus, penuh dengan pelajaran dan ujian.
Mas Sonnie menekankan pentingnya
kesabaran dalam perjalanan ini. "Kadang kita merasa lelah atau putus asa,
tetapi itulah bagian dari perjalanan. Yang penting adalah terus
melangkah," katanya. Ia menambahkan bahwa setiap langkah kecil menuju Tuhan
adalah langkah besar dalam proses kesadaran.
Menghidupkan Islam dalam
Kehidupan Sehari-hari
Islam sebagai proses kesadaran
juga berarti membawa nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa
dimulai dengan hal-hal sederhana, seperti bersikap jujur, membantu sesama, dan
menjaga hubungan baik dengan orang lain. Dalam QS. An-Nahl (16:90), Allah
berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat." Ayat ini menunjukkan bahwa
Islam adalah agama yang mendorong kebaikan dalam segala aspek kehidupan.
Bang Dame berbagi bahwa salah
satu cara ia menghidupkan Islam adalah dengan terus merenungkan ayat-ayat
Al-Qur'an dan mencari relevansinya dengan situasi yang ia hadapi. "Setiap
kali aku membaca Al-Qur'an, aku merasa seperti menemukan jawaban baru untuk
masalahku," katanya.
Kesimpulan
Islam bukanlah sesuatu yang
statis, tetapi sebuah proses kesadaran yang terus berkembang. Ini adalah
perjalanan seumur hidup yang melibatkan hati, pikiran, dan tindakan kita. Islam
sejati tidak hanya tentang identitas sosial atau ritual lahiriah, tetapi tentang
bagaimana kita terus mendekatkan diri kepada Tuhan melalui pasrah total,
refleksi mendalam, dan tindakan nyata.
Sebagaimana Kang Abu, Bang Dame,
dan Mas Sonnie telah tunjukkan, Islam adalah perjalanan yang dinamis, penuh
dengan pelajaran dan tantangan. Dengan memahami Islam sebagai proses kesadaran
hati, kita dapat menjalani hidup yang lebih bermakna, damai, dan selaras dengan
kehendak Tuhan.
Sumber:https://www.youtube.com/watch?v=wbXDE7b3BTM&list=PLn6iXUQBV7oBvT0WQQqdRbeh1jtzwThE-&index=161 click here

Comments
Post a Comment